Sejarah Konferensi Asia Afrika & Dasa Sila Bandung

By:
Categories: Pendidikan
No Comments

Sejarah Konferensi Asia Afrika & Dasa Sila Bandung

Sejarah Konferensi Asia Afrika & Dasa Sila Bandung

KONFERENSI ASIA AFRIKA

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa politik luar negeri Indonesia landasannya berakar pada falsafah Pancasila dan secara konstitusional berakar pula pada alinea pertama Pembukaan UUD 1945, yang sama sekali tidak menghendaki adanya penjajahan di atas dunia, karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Mengingat pentingnya landasan politik luar negeri ini, Indonesia dengan beberapa negara lainnya seperti: India, Sri Lanka, Pakistan, dan Myanmar membuat suatu gagasan untuk mengadakan suatu konferensi bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Usaha untuk mengadakan konferensi ini telah lahir di Colombo pada tahun 1954 ketika Perdana Menteri dari kelima negara tersebut mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan serta keprihatinan bersama.

Dalam pertemuan di Colombo inilah Perdana Menteri Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Ali Sastroamidjojo mengusulkan agar diadakan suatu pertemuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika guna meningkatkan usaha-usaha perdamaian dunia.

Dalam mengusulkan konferensi seperti ini, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengulangi kembali tujuan penting dari politik luar negeri Indonesia, yang untuk pertama kali beliau ucapkan di muka umum pada tahun 1953, sewaktu beliau menyampaikan program kabinet kepada DPR bulan Agustus 1953.

Ini berarti bahwa sejak itu, dalam bekerja sama dengan bangsa-bangsa Asia dan Afrika lainnya, Indonesia akan menegaskan posisi dan mendengarkan suaranya terhadap persoalan-persoalan dunia, khususnya masalah-masalah yang menyangkut Asia dan Afrika.

Konferensi Asia Afrika, Sejarah Konferensi Asia Afrika, Dasa Sila Bandung, KAA,

Ini menandaskan pula maksud Pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo untuk memainkan peranan dalam percaturan dunia dengan bekerja sama dengan negara-negara Asia dan Afrika lainnya.

Rencana untuk mengadakan konferensi kemudian dilanjutkan lagi dalam suatu pertemuan di Bogor dalam bulan Desember 1954 yang juga dihadiri kelima Perdana Menteri atas undangan Perdana Menteri Indonesia.

Akhirnya pertemuan tersebut menyetujui untuk diadakan konferensi yang akan diselenggarakan di Indonesia bulan April 1955. Dan sebagaimana kita ketahui konferensi tersebut diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18–24 April 1955.

Konferensi ini diadakan karena para pemimpin Indonesia, India, Myanmar, Pakistan, dan Sri Lanka menyadari sepenuhnya akan nasib bangsa-bangsa yang pada waktu itu belum merdeka di Asia dan Afrika serta gangguan terhadap keramaian dan stabilitas politik dunia.

Sebagaimana kita ketahui pula akhirnya realisasi politik luar negeri Indonesia yang terwujud dalam pelaksanaan Konferensi Asia Afrika telah menghasilkan prinsip-prinsip dasar yang dikenal dengan “Dasa Sila Bandung”. Prinsipprinsip tersebut di antaranya:

Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa;
Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa;
Mengakui persamaan semua ras dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil;
Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam masalah-masalah dalam negeri negara lain;
Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendiri atau secara kolektif sesuai dengan Piagam PBB;
Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.
Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancamanancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik sesuatu negara;
Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, konsiliasi, arbitrasi atau penyelesaian pengadilan maupun cara-cara damai lainnya sesuai pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa;
Memajukan kepentingan bersama dan bekerja sama;

Menghormati keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional

Semangat yang terkandung di dalam deklarasi yang menyatakan dengan tegas Kesepuluh Sila dan pemikiranpemikiran yang melatarbelakanginya disebut dengan “Semangat Bandung”, dan deklarasi yang secara resmi disebut “Deklarasi untuk Memajukan Perdamaian Dunia dan Kerja Sama” terkenal sebagai “Deklarasi Bandung”.

Pada waktu Persidangan ke-15 Sidang Umum PBB pada tahun 1960, yang dapat disebut “Persidangan Puncak” PBB karena dihadiri oleh banyak kepala negara dan pemerintahan, “Semangat Bandung” diterima sebagai salah satu penyelesaian termasyhur yang pernah dihasilkan oleh Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu Deklarasi tentang Pemberian Kemerdekaan kepada Negara-Negara dan Bangsa-Bangsa Terjajah yang lebih dikenal sebagai “Deklarasi tentang Dekolonisasi”.

 

Artikel terkait :