Peristiwa Setelah Periode Pelaporan

By:
Categories: Pendidikan
No Comments

Peristiwa Setelah Periode Pelaporan

Peristiwa Setelah Periode Pelaporan

Tanggal Autorisasi

4.1 Tanggal autorisasi adalah tanggal ketika laporan keuangan dapat ditentukan secara legal terautorisasi untuk dipublikasikan. Penentuan tanggal autorisasi berdampak penting terhadap konsep peristiwa setelah periode pelaporan. Tanggal autorisasi diperlakukan sebagai titik pisah batas peristiwa setelah periode pelaporan, hingga kapan peristiwa setelah periode pelaporan harus diperiksa untuk memastikan apakah peristiwa tertentu memenuhi syarat untuk perlakuan yang dijelaskan dalam IAS 10.

4.2 Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menentukan tanggal autorisasi dari laporan keuangan diatur berikut ini.

  • Ketika entitas diharuskan untuk mengumpulkan laporan keuangan ke pemegang sahamnya untuk persetujuan setelah laporan tersebut telah diterbitkan, tanggal autorisasinya adalah tanggal penerbitan asli dan bukan tanggal ketika laporan disetuji oleh pemegang saham; dan
  • Ketika entitas diharuskan untuk menerbitkan laporan keuangannya pada badan pengawas yang berisi orang-orang noneksekutif, tanggal autorisasinya adalah tanggal ketika manajemen mengautorisasi laporan tersebut untuk diterbitkan ke badan pengawas.

5. Peristiwa yang Memerlukan Penyesuaian dan yang Tidak Memerlukan Penyesuaian

5.1 Dua jenis persitiwa setelah periode pelaporan dibedakan dalam standar. Kedua peristiwa ini adalah, peristiwa yang memerlukan penyesuaian setelah periode pelaporan dan peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian setelah periode pelaporan. Kejadian yang memerlukan penyesuaian setelah periode pelaporan memberikan bukti dari kondisi yang benar-benar terjadi pada periode pelaporan, dan kejadian tersebut diketahui sepanjang waktu tersebut. Laporan keuangan harus disesuaikan untuk menunjukkan peristiwa yang memerlukan penyesuaian setelah periode pelaporan.

5.2 Contoh umum dari peristiwa yang memerlukan penyesuaian adalah

  • Kebangkrutan pelanggan setelah periode pelaporan biasanya menghasilkan rugi piutang dagang pada periode pelaporan.
  • Penjualan sediaan pada harga yang secara substansi lebih rendah dari kos setelah periode pelaporan mengharuskan NRVnya pada periode pelaporan.
  • Penjualan aset tetap pada harga jual neto yang lebih rendah dari nilai bawaannya merupakan indikasi dari penurunan nilai yang terjadi pada periode pelaporan.
  • Penentuan pembayaran insentif atau bonus setelah periode pelaporan saat sebuah entitas memiliki obligasi konstruktif pada periode pelaporan.
  • Penurunan posisi keuangan (kerugian berulang) dan hasil operasi (penurunan modal kerja) dari entitas yang menanggung keberlanjutan entitas sebagai ‘going concern’.

6. Dividen yang Diajukan atau Diumumkan Setelah Periode Pelaporan

Dividen dari saham ekuitas yang diajukan atau diumumkan setelah periode pelaporan tidak boleh diakui sebagai liabilitas pada periode pelaporan. Pengumuman semacam ini adalah peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian dan pengungkapan dalam footnote diharuskan, kecuali bila tidak material.

7. Pertimbangan Going Concern

Penurunan posisi keuangan entitas setelah periode pelaporan dapat memunculkan keraguan substansial atas keberlanjutan entitas atau going concern. IAS 10 mengharuskan bahwa entitas tidak boleh menyiapkan laporan keuangannya atas dasar going concern bila setelah periode pelaporan manajemen menentukan apakah akan melikuidasi entitas atau menahan penjualan, atau bila tidak ada jalan keluar realistis lain selain melakukan itu. IAS 10 menekankan bahwa pengungkapan yang dijelaskan dalam IAS 1 dalam kondisi semacam ini harus dipatuhi.

8. Persyaratan Pengungkapan

IAS 10 mensyaratkan tiga macam pengungkapan berikut:

1) Tanggal ketika laporan keuangan diautorisasi untuk diterbitkan dan siapa yang memberikan autorisasi. Bila pemilik entitas memiliki kekuatan untuk mengubah laporan keuangan setelah penerbitan, maka hal ini harus diungkapkan.

2) Bila informasi yang diterima setelah periode pelaporan mengenai kondisi yang terjadi pada saat periode pelaporan, pengungkapan yang terkait dengan kondisi tersebut harus dimutakhirkan berdasar informasi terbaru.

3) Bila peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian setelah periode pelaporan memiliki signifikansi artinya, bila tidak diungkapkan akan mempengaruhi kemampuan pengguna laporan keuangan untuk membuat evaluasi dan pengambilan keputusan yang cukup, pengungkapan harus dibuat untuk setiap kategori signifikan dari peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian terkait dengan sifat dari kejadian dan estimasi dampak keuangannya, atau pernyataan bahwa estimasi semacam itu tidak dapat dibuat.

Sumber : https://jalantikus.app/