Accounting Mathematics

By:
Categories: Pendidikan
No Comments

Table of Contents

Accounting Mathematics

Accounting Mathematics

Minggu lalu saya bertemu dengan dosen saya yang bernama Dr. Sony Warsono, MAFIS., Ak. Beliau ini adalah dosen pengampu matakuliah Sistem Informasi Akuntansi ketika saya masih kuliah dulu.

Saat bertemu, beliau berkata bahwa beliau sedang memiliki obsesi dalam suatu hal. Kemudian beliau bertanya, “Apa itu debit dan apa itu kredit? Kenapa kok akuntansi itu debit dan kredit?”

Saya menjawab bahwa istilah itu merupakan kesepakatan dalam pencatatan double entry. Double entry itu digunakan untuk menunjukkan perubahan-perubahan pada aset pemilik yang dikelola perusahaan. Sebagai contoh, kas bertambah Rp10.000 (ini penulisan Rp yang benar). Kalau tidak menggunakan double entry, pemilik tidak akan tahu kas bertambah Rp10.000 itu asalnya darimana. Hal ini sejalan dengan konsep kesatuan usaha, yaitu perusahaan terpisah dengan pemilik.

Kemudian Pak Sony bertanya lagi, “Kenapa kok kalau aset bertambah itu didebit? Terus kenapa biaya juga seperti itu?”

Saya menjawab, karena sudah secara kesepakatan bahwa aset bertambah itu didebit. Sedangkan biaya juga didebit karena untuk menunjukkan penurunan aset (dikredit) asalnya darimana. Ini hampir serupa dengan, kenapa pendapatan bertambah malah dikredit? Itu karena, untuk menunjukkan bertambahnya aset (debit), karena ada pendapatan (kredit), dan pendapatan ini meningkatkan ekuitas (ekuitas bertambah dikredit). Lebih jelasnya lagi, pendapatan naik, laba naik, laba menambah ekuitas, jadi ekuitas ikut naik.

Kemudian Pak Sony menjelaskan bahwa debit kredit itu memang benar bukan tambah dan kurang. Buktinya pendapatan bertambah itu dikredit sedangkan aset bertambah itu didebit. Debit kredit itu dari asal muasalnya berarti kiri kanan. Nah, inilah yang seharusnya dimasukkan dalam pengajaran akuntansi, sehingga mahasiswa tidak salah konsep. Lalu, kenapa kok kiri kanan? Bukan depan belakang?

Setelah bertanya itu, Pak Sony menggambar persamaan akuntansi yaitu,

Aset = Kewajiban + Ekuitas

Dari persamaan ini, Pak Sony menjabarkan lagi menjadi

Aset = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan – Biaya

Kemudian persamaan ini diturunkan lagi menjadi

Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan.

Setelah itu, Pak Sony berkata, lihat persamaan ini, ini jawaban kenapa Aset dan Biaya bertambah sama-sama didebit, sedangkan pendapatan, kewajiban dan ekuitas dikredit. Ini karena asalnya dari persamaan akuntansi. Persamaan akuntansi ini juga menjelaskan kenapa akuntansi kok kiri-kanan, karena asalnya memang dari persamaan matematika (matematika mengenal ruas kiri dan ruas kanan persamaan).

Kemudian, saya berargumen bahwa persamaan akuntansi bukan merupakan persamaan matematika, sehingga tidak bisa dibolak-balik seperti itu (baca buku Teori Akuntansi karangan Suwardjono). Kenapa kok tidak bisa? Karena sebetulnya persamaan akuntansi itu mau menunjukkan bahwa perusahaan itu mengelola aset pemilik. Oleh karena itu, yang ditunjukkan dari persamaan akuntansi adalah Aset sama dengan.

Selain itu, kalau dalam persamaan akuntansi Biaya dipindah ke kiri, esensi dari persamaan akuntansi yang mau menunjukkan bahwa perusahaan mengelola aset pemilik dan fungsi akuntansi melaporkan perubahan aset yang dikelola, jadi tidak kena lagi.

Pak Sony Warsono kemudian menjawab, coba buktikan kalau persamaan akuntansi memang benar-benar tidak bisa menjadi persamaan matematika. Apakah Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan itu salah? Benar kan secara matematika? Lalu kenapa tidak boleh?

Saya mulai berpikir lebih lanjut lagi, secara logis hal ini memang benar. Kemudian Pak Sony berkata bahwa akuntansi itu terlalu jauh dibawa ke ilmu sosial. Padahal dari asalnya, akuntansi debit kredit itu tertuang dalam buku Summa de Aritmatica, Geometrica, Proportini et Proportionalita karangan Lucas Pascioli (Bapak Akuntansi). Summa de Aritmatica itu ‘kan buku matematika, tetapi dalam perkembangannya akuntansi malah dibawa ke ilmu sosial. Ini yang membuat ilmu akuntansi perkembangannya tidak banyak (disini ditulis ilmu akuntansi, bukan standar atau praktek).

Argumen Pak Sony benar seacara logis. Tetapi kita tidak bisa memungkiri bahwa akuntansi itu memang ilmu sosial, karena akuntansi dipengaruhi unsur judgement, asumsi, perkiraan, politis. Bisa dibilang, tidak ada yang cukup eksak dari akuntansi. Bahkan secara empiris kita bisa menemukan praktek akuntansi yang berbeda-beda dari satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, dan tidak ada yang salah dari perusahaan-perusahaan ini. Malah kalau kita lihat lebih lanjut, akuntansi memiliki standar akuntansi yang lebih mirip dengan hukum dan perundang-undangan (baik dalam pembuatannya maupun dalam penggunaannya).

Kemudian, Pak Sony mengungkit definisi dari pendapatan yaitu, pendapatan merupakan peningkatan ekuitas. Secara persamaan akuntansi, jika satu variabel dari ruas kanan persamaan matematika naik (pendapatan) bersamaan dengan naiknya variabel lain dari ruas kanan (ekuitas), tidak akan mungkin bisa. Ini jadi mungkin karena ruas kanan naik (pendapatan) kemudian ruas kiri naik dulu (aset), baru ruas kanan ikut naik (ekuitas).

Secara persamaan matematika, logika ini benar. Begitu juga secara aliran data akuntansi.

Dalam persamaan Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan, ruas kiri persamaan menunjukkan use of funds, sedangkan ruas kanan persamaan menunjukkan source of funds.

Setelah itu, Pak Sony menjelaskan lagi, secara persamaan matematika ada hal dalam akuntansi yang harusnya ada, malah jadi tidak ada. Beliau memberi contoh, ada dua perusahaan yaitu TVRI dan Kompas. TVRI memasang iklan di Kompas senilai Rp100.000.000, kemudian Kompas memasang iklan di TVRI dengan nilai yang sama yaitu, Rp100.000.000. Kejadian ini kemudian dicatat sebagai Biaya iklan (D) Rp100.000.000 pada Pendapatan Iklan (K) Rp100.000.000. Hal ini logis karena secara persamaan, Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan. Naiknya ruas kiri (biaya) diikuti naiknya ruas kanan (pendapatan). Hanya saja, kita akan jarang menemukan jurnal Biaya pada Pendapatan untuk transaksi terkait dua entitas berbeda. Inilah yang dimaksud Pak Sony, akuntansi malah membuat hal yang seharusnya ada (secara logika matematika) jadi tidak ada.

Saat itu, saya berargumen bahwa kejadian barter diatas agak absurd. Secara nyata, perusahaan jarang yang secara rasional mau melakukan barter. Tetapi secara logis, hal ini benar.

Pada akhir pembicaraan, Pak Sony masih ingin mempertahankan pemikirannya dan ingin saya mau untuk menerima hal ini. Saya sebetulnya sudah menerima pemikiran Pak Sony sejak awal pembicaraan, hanya saya menggunakan prinsip keilmuan, yaitu suatu ilmu harus tidak mudah untuk digoyahkan. Saya mengatakan hal ini pada akhir pembicaraan. Pak Sony tersenyum dan berkata, “Tapi sekarang sudah goyah kan?”

Saya tersenyum. Benar kata-kata beliau, saya jadi tertarik dengan pemikiran ini.

Kemarin, saya menceritakan hal ini dalam kuliah. Ternyata apa yang dikatakan Pak Sony dalam contoh TVRI dan Kompas (barter) dan jurnal Biaya pada Pendapatan dalam transaksi antar dua entitas berbeda, benar-benar terjadi dalam praktek.

Mahasiswa saya bercerita bahwa Ia bekerja di perusahaan developer. Perusahaan ini cukup sering melakukan barter. Contoh nyata yang dialami mahasiswa saya adalah, pemasangan teralis untuk beberapa puluh rumah yang ditukar dengan sebuah rumah jadi dengan nilai yang sama. Jurnalnya, Biaya pemasangan teralis (D) pada Pendapatan penjualan rumah (K). Secara rasional, perusahaan teralis dan developer ini merasa sama-sama untung untuk melakukan transaksi barter, jadi kedua perusahaan ini mau melakukan hal ini. Kenyataan inilah yang hilang dalam pengajaran akuntansi.

Sekarang, saya jadi benar-benar tertarik dengan Accounting Mathemathics. Anda juga tertarik? Search di Google dengan keyword: Accounting Mathematics Sony Warsono.

Sumber : https://uptodown.co.id/